Tampilkan postingan dengan label Pejuang Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pejuang Islam. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 April 2013

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEglz4XiysQUD4K049flY12fUIOhZA-KcbE3NL3qprGnDWnYYTjMvwFapL-6SH7CWhJaeFSZlbzdRSul3STrBPM9hSPASqnMUUdbRWA6BcgHPs58ywXGz6GFQ6f2QotTUIlIzP9xrknPElg/s1600/SQ+TERAPI.jpgbaiklah skrg pda inti sarinya.sudah paham sama artikel diatas kan
?bahwa sesuatu musibah,sakit dll adalah karena ulah kita sendiri. jadi ada dalilnya.itu bukan mengada ada
Ada kata-kata ustad yang selalu sy ingat dan menumbuhkan bisa semangat berjuang (untuk meraih kesembuhan) – pesan bahwa : "Karunia Allah itu langsung datangnya, begitu kita mohon ampun dan segera memperbaiki perilaku kita - langsung akan terlihat perbaikan pada kesehatan kita, Karena Allah maha pengasih dan penyayang kepada hambanya”. Bahkan untuk beberapa penyakit (yang belum timbul kerusakan organ) kesembuhan itu terjadi dalam hitungan menit – subhanalloh ...

tanpa kita sadari tingkah laku/sikap kita yang kadang "emosi”, "suka marah2?, "ga”, dsb membawa penyakit ke diri kita sendiri, disamping disebabkan oleh makanan atau faktor lain.
APAKAH DOA BISA MENGUBAH TAKDIR
Di sini ada pertanyaan yang cukup mahsyur, bagaimana jika yang didoakan sudah ditakdirkan mengalami sesuatu, apakah seseorang berdoa atau tidak berdoa? Dan bila yang didoakan belum ditakdirkan terjadi atau ditakdirkan tidak terjadi, apakah berdoa atau tidak?
Sebagian orang menyangka pertanyaan ini adalah benar, lalu meninggalkan doa. Mereka Berkata: "Tidak ada gunanya berdoa." kelompok ini sangat bertentangan dengan akal sehat. untuk mendukungnya mereka menghilangkan seluruh sebab.
Bisa dikatakan kepada mereka: Apakah Anda bisa memastikan ditakdirkan perut kenyang kalau Anda tidak makan? Apakah Anda bisa mengatakan ditakdirkan lapar, kalau Anda selalu memakan hidangan? Aapakah anda bisa memastikan ditakdirkan punya anak sementara anda tidak menikah? Jadi takdir itu adalah hukum pasti, terkait dengan sebab. hanya saja kita yang kadang kadang tidak tahu persis sebabnya. Bahkan binatang sekalipun punya naluri untuk menempuh sebab yang meneruskan ekosistem dan kehidupannya. Binatang lebih punya akal dan lebih paham daripada mereka yang seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat jalannya.
Beriman bahwa Tuhan itu ada adalah iman yang paling utama. Jika seseorang sudah tidak percaya bahwa Tuhan itu ada, maka sesungguhnya orang itu dalam kesesatan yang nyata.
Benarkah Tuhan itu ada? Kita tidak pernah melihat Tuhan. Kita juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Tuhan. Karena itu, tidak heran jika orang-orang atheist menganggap Tuhan itu tidak ada. Cuma khayalan orang belaka.
http://sphotos-b.xx.fbcdn.net/hphotos-snc6/216308_184235278291281_4086593_n.jpgAda kisah zaman dulu tentang orang atheist yang tidak percaya dengan Tuhan. Dia mengajak berdebat seorang alim mengenai ada atau tidak adanya Tuhan. Di antara pertanyaannya adalah: “Benarkah Tuhan itu ada” dan “Jika ada, di manakah Tuhan itu?”
Ketika orang atheist itu menunggu bersama para penduduk di kampung tersebut, orang alim itu belum juga datang. Ketika orang atheist dan para penduduk berpikir bahwa orang alim itu tidak akan datang, barulah muncul orang alim tersebut.
“Maaf jika kalian menunggu lama. Karena hujan turun deras, maka sungai menjadi banjir, sehingga jembatannya hanyut dan saya tak bisa menyeberang. Alhamdulillah tiba-tiba ada sebatang pohon yang tumbang. Kemudian, pohon tersebut terpotong-potong ranting dan dahannya dengan sendirinya, sehingga jadi satu batang yang lurus, hingga akhirnya menjadi perahu. Setelah itu, baru saya bisa menyeberangi sungai dengan perahu tersebut.” Begitu orang alim itu berkata.
Si Atheist dan juga para penduduk kampung tertawa terbahak-bahak. Dia berkata kepada orang banyak, “Orang alim ini sudah gila rupanya. Masak pohon bisa jadi perahu dengan sendirinya. Mana bisa perahu jadi dengan sendirinya tanpa ada yang membuatnya!” Orang banyak pun tertawa riuh.
Setelah tawa agak reda, orang alim pun berkata, “Jika kalian percaya bahwa perahu tak mungkin ada tanpa ada pembuatnya, kenapa kalian percaya bahwa bumi, langit, dan seisinya bisa ada tanpa penciptanya? Mana yang lebih sulit, membuat perahu, atau menciptakan bumi, langit, dan seisinya ini?”
 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiJje2E45xGeId1p-JGqa4YNYrg3SD_JMq_hARZbiA9zUzA7K8x-ixMQcAAv4c6wb1x9OSg-Rf1ZPRY4-JIs81X_Rq6urJO9qyLxmAf1vtrL9PEsvvKQmyJI0J0xznnlgNKn9B8LbIRFZSJ/s400/pejuang.jpgEngkau ingin berjuang, tapi tidak mampu menerima ujian, rusak oleh pujian, tidak sepenuhnya menerima pimpinan dan tidak begitu setiakawan
Engkau ingin berjuang, tapi tidak sanggup berkorban, tidak sanggup terima cobaan dan hanya ingin jadi pemimpin agar pengikut menjadi agak segan

Engkau ingin berjuang, tapi kesehatan dan kerehatan tidak sanggup engkau korbankan dan waktu tidak sanggup engkau luangkan
Engkau ingin berjuang, tapi dirimu tidak engkau tingkatkan, disiplin diri engkau abaikan, janji kurang engkau tunaikan dan kasih sayang engkau abaikan
Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!